Monday, 22 July 2013

Kitchen by Banana Yoshimoto


Judul: Kitchen (Kicchin)
Penulis: Banana Yoshimoto
Penerjemah: Dewi Anggraeni
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Rating: T
Bintang: ✮ ✮ ✮ ✮ ✮
Review di Goodreads: clicky 

Ringkasan:

"Aku tidak bisa tidur di tempat lain selain dapur." Mikage Sakurai.  Setelah kematian neneknya, tokoh utama wanita kita ini hanya merasa tenang jika berada di dapur. 

Namun dapur keluarga Tanabe yang membuatnya jatuh cinta. Jatuh cinta pada Yuuichi yang mau memungutnya dan ibu (ayah) Yuuichi yang seorang transexual yang membuatnya merasakan apa arti keluarga.  

Nampaknya baru saja saya komen di blog mbak Ren klo saya gak begitu suka dengan cerita yang inti existensinya adalah romance. Rasanya seperti menelan ludah sendiri ya? Tidak. Saya memang gak begitu suka dengan novel dengan inti utama romance, tapi fanfic yang saya baca seringkali intinya adalah romance. Satu dua kali romance novel itu tidak akan membunuh saya (hitungannya ngeles gak ini? lol)

Novel ini saya baca Januari yang lalu, ketika saya masih full time NEET. Saya memutuskan untuk mereview ini sekalian untuk dimasukkan dalam new author challenge dan post pertama di blog yang saya khususkan untuk buku (tidak termasuk manga, sobs). 

Waktu itu saya sudah pegang satu novel tebal berbau sejarah Islam dan saya ingin nyari novel-novel tipis yang kiranya bisa menarik perhatian. Lalu muncullah novel tipis ini, terselimpit diantara novel-novel agak tebal dan tak dihiraukan. Nah, apa yang membuat saya tertarik mengambil buku ini tanpa mempertimbangkan jika ini drama romance? Tentu saja si tokoh utama yang punya fetish dapur dan yah ada kata transexual di belakang bukunya ;)

Sebagai cewek yang dulunya kuliah di kampus yang sebagian besarnya adalah lelaki, saya selalu tertawa jika teman-teman cowok saya selalu kelabakan jika ada banci, walaupun toh mereka ini cantik....(yah tergantung sih?)

Anyway, novel ini terdiri dari dua cerita, Kitchen dan Moonlight Shadow, ditulis jauh sebelum saya lahir, dan itulah yang membuat saya sedikit kaget, ditahun seperti itupun sudah ada yang mau mengangkat tema transexual walaupun yang transexual ini karakter sampingan (tapi sesungguhnya yang memberi efek besar dalam kehidupan karakter utama). Ketika Mikage sudah bisa berdiri dengan kedua kakinya, seorang stalker yang merasa ditipu oleh fakta bahwa ibu Yuuchi adalah transexual membunuhnya di depan bar yang dimiliki ibu Yuuchi sendiri. Hal ini membuat hubungan Yuuichi dan Mikage merenggang, pengikat hubungan mereka telah meninggalkan dunia. Sedih? Iya.

Di Moonlight Shadow Shu memutuskan untuk memakai seragam cewek untuk mengatasi kepedihannya ketika kakak dan pacarnya meninggal dalam waktu bersamaan karena kecelakaan mobil. Saya tidak tahu jika crossdessing sudah populer saat itu. Saya mungkin suka anime dan manga tapi saya bukan ahli budaya Jepang.

Cara penulisan yang mengalir indah, Mikage kadang begitu pahit melihat hidup tapi entah kenapa saya bisa mengerti dan mengiyakan. ucu, sedih, dan haru bercampur tanpa harus membuat saya begitu sedih karena novel ini berputar mengelilingi satu kata: kematian. Bagaimana karakter utama melepaskan dirinya dari kesedihan karena ditinggal mati oleh orang-orang yang dicintai mereka: nenek, mama (sebenarnya papa), pacar dan saudara. Bagaimana mereka mendapat pencerahan untuk melanjutkan hidup mereka yang terasa berhenti karena terkadang kematian orang yang dicinta membuat dunia itu berhenti. Namun, bumi berputar tanpa menunggu ijin dari manusia. 

Lima bintang. Novel ini tidak sekalipun membuat saya menangis karena memang cara penulisannya yang mengalir indah dan memberikan perasaan lembut. Saccharine romance is good every now and then :3

No comments:

Post a Comment

sankyu ya (*≧▽≦)