Monday, 22 July 2013

An Artist of The Floating World by Kazuo Ishiguro


Judul: An Artist of the Floating World
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Halaman: 232
Penerbit: Elex Media Komputindo
Terbit: 6 Februari 2013
Format: Paperback
Rating: PG

Review: 

Masuji Ono adalah seorang seniman bohemian dan propagandis selama masa imperialisme Jepang.  Ketika akhirnya Jepang menyerah kepada sekutu, putranya gugur di Perang Jepang-China, dan istrinya meninggal, dia hidup mengambang di masa tuanya. Dikejar oleh masa lalu yang dia anggap merupakan kesalahan besarnya, dia berusaha menghapi masa lalunya yang dapat mengancam pernikahan putri terakhirnya.

Tema novel ini yang paling kentara adalah Jepang setelah Perang Dunia II dan perjodohan. Berawal dari usaha kedua Ono untuk menjodohkan Noriko dengan Taro Saito anak dari Dr. Saito yang sama-sama seorang seniman, namun lebih liberal dari dirinya yang konservatif. Putri pertama Ono mendorongnya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dia buat di masa lalu dengan kata-kata ambigu. Hal itu didorong kegagalan perjodohan pertama Noriko dengan Mitake yang Setsuko dan suaminya duga ada alasan dibalik semua itu, entah karena memang Keluarga Mitake menganggap derajat Masuji Ono terlalu tinggi untuk anak mereka menikahi Noriko atau karena Keluarga Mitake menemukan aib buruk Ono selama proses penyelidikan untuk melakukan perjodohan.

Ono awalnya bersikeras tidak mungkin Keluarga Mitake membatalkan perjodohan tersebut karena menemukan aib dalam keluarganya, namun kekhawatiran Setsuko, yang menurutnya terlalu dipengaruhi oleh suaminya yang membenci generasinya, membuatnya berkunjung ke kolega-kolega lamanya untuk meminta agar mereka tidak menceritakan hal-hal buruk tentang dirinya.

Ditulis dengan prespektif orang pertama, lansia pula, Ono akan bercerita tentang apa yang terjadi selama ia memperjuangkan perjodohan anaknya dan sering kali juga ia akan bercerita tentang masa lalu.

Ohno terlahir dari keluarga berkecukupan, dia melawan kehendak ayahnya yang tidak menginginkannya menjadi seorang pelukis karena pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang menguntungkan. Ono menceritakan ketika lukisannya dibakar oleh ayahnya, bau sesuatu yang dibakar membuatnya tidak meresa enak sampai kapanpun. 

Ono meniti karirnya bekerja di "pabrik lukis" yang mengutamakan kecepatan di bawah naungan Master Takeda, lalu berpindah ketika dia merasa ambisinya tidak terpenuhi jika harus bekerja seperti mesin. Selanjutnya dia berguru pada Mori-san yang berhasil mematangkan kemampuan Ono sebagai pelukis yang memang memiliki bakat. Dia mengakui kehebatan Mori-san sebagai seorang guru dan pelukis, namun hal itu tidak membuatnya  begitu hormat padanya karena Mori-san adalah tipe guru yang tidak mau melihat anak didiknya berkembang lebih dari dirinya atau berkembang tidak sesuai dengan gaya yang dia ajarkan.

"Kadang, bila seseorang berhasil mendidik anak murid yang berbakat dengan susah payah dalam waktu lama, ia akan sulit melihat kedewasaan dari bakat muridnya dan malah menganggap itu sebagai pengkhiantan, dan situasi yang akan disesali mulai muncul."

Ironi adalah ketika dia secara tidak sadar (entah ya, mengingat novel ini ditulis dengan perepektif orang pertama yang jelas subjektif dan tidak bisa terlalu dapat dipercaya) telah menghancurkan kehidupan salah satu muridnya, Kuroda yang berbakat ketika muridnya mengambil jalan untuk melawan imperialisme Jepang. Semua lukisan muridnya dibakar oleh polisi Jepang dan Kuroda sendiri mengalami penyiksaan selama penahanan oleh polisi yang membuat bahunya cacat.

Ono berusaha mendekati Kuroda agar muridnya tersebut tidak membuat kesan buruk tentang dirinya jika ada penyelidik dari keluarga Saito datang padanya, tanpa hasil. 

Pada akhirnya Ono harus menyadari, sekalipun dia telah membuat kesalahan di masa lalu, dia tidak harus menghukum dirinya begitu keras dan perjodohan anaknya ini membuatnya sadar bahwa dia harus berdamai dengan masa lalu. Apa yang Ono khawatirkan pun pada akhirnya tidak menjadi kenyataan.

Ukiyo-e

Judul novel ini diambil dari kata Ukiyo-e yang secara bahasa berarti "gambar dari dunia awang-awang", Ukiyo-e merupakan salah satu genre seni di Jepang. Namun bisa juga diambil dari daerah di samping rumah Ono yang merupakan daerah hiburan dimana orang bingung apakah mereka harus pulang ke pelukan istri masing atau menghabiskan malam mereka di tempat hiburan tersebut.

Terjemahan

Saya mendapat novel ini dari giveaway yang diadakan oleh kak Melody  dan disponsori oleh penerjemah novel ini, Rahma Wulandari (terima kasih). Tidak ada yang saya keluhkan tentang terjemahan novel ini, hanya ada sedikit hal yang menurut saya tidak pas dengan settingnya, tapi mengingat Kazuo Ishiguro sendiri bukan merupakan orang Jepang dan novel ini ditulis dengan Bahasa Inggris, hal itu dapat dimaklumi.

Fisik Buku

Sebelum membaca ini, saya membaca manga terbitan Tokyo Pop, lebih tebal dari manga terbitan Indonesia dan malah lebih tebal dari novel ini. Kertas dari Tokyo Pop memang tebal dan itu membuat saya merasa memegang novel bajakan ketika membaca ini. Namun, ono duwe ono rego, jika dibandingkan dengan harga komik keluaran Tokyo Pop, novel ini memang kalah. Tapi toh yang penting isinya kan?

Oh, ada juga typo di sana-sini yang membuat saya mengangkat alis.

Tapi saya suka covernya, tulisan timbul ini mengingatkan saya dengan cover-cover Shonen Star dan Shonen Magz terbitan Elex juga :D *elus-elus cover*

Nilai:

Jarang ada novel yang diceritakan dari sudut pandang lansia, pace cerita mungkin kadang lambat, tapi penuturan subjektif Ono membuat saya belajar tentang lukisan-lukisan Jepang, tradisi perjodohan yang saya anggap absurd dan apa saja yang terjadi setelah Restorasi Meiji (mengingat saya terlalu suka pada Shinseigumi). Jadi, 3.5/5. 

No comments:

Post a Comment

sankyu ya (*≧▽≦)