Friday, 31 January 2014

Dua Saudara oleh Jhumpa Lahiri


Judul: Dua Saudara (Brotherly Love)
Penulis: Jhumpa Lahiri
Penerjemah: Anton WP
Penerbit: BukuKatta (Indonesia, The New Yorker)
Bahasa: Inggris & Indonesia
Genre: short story, historical, cultural
Halaman: 68p
Rating: PG
Bintang: ✮ ✮ ✮ ✮
Bisa dibaca gratis di The New Yorker

Ayah mereka menghentikan pembicaraan mengenai Naxalbari. Katanya para pemuda bergairah pada sesuatu yang bukan apa-apa. Aku hidup melalui perubahan di negeri ini, katanya. Aku tahu apa yang dikorbankan ketika sebuah sistem menggantikan yang lainnya. Bukan kamu.

***
Siapa yang punya nyali untuk merubah sistem? Apakah puas menjadi orang yang hanya bisa mengkritik tanpa melakukan tindakan? Perkataan ayah kedua saudara di novel ini begitu mengena. Author fanfic kesukaan saya suka sekali dengan politik, sehingga hampir semua fanfic yang ia buat penuh dengan unsur politik, sama sekali tidak bersih. Banyak yang tidak suka ketika Gus Dur terjun di dunia politik, kenapa? Kata orang-orang, seorang Kyai tidak akan lagi bersih ketika dia terjun ke dunia politik. Nyah ヾ(´・ ・`。)ノ”

Kita membutuhkan seseorang yang praktis, bukan teoritis, yang bisa berkompromi, yang bisa melihat keburukan manusia dan mengijinkannya ada selama tujuan yang lebih baik tercapai.

Kembali ke inti Dua Saudara....

Cerpen ini bercerita tentang persaudaraan. Tentang dua saudara yang lahir di Calcutta, India, yang sama-sama diberi kelebihan otak oleh Tuhan tetapi mempunyai kepribadian berbeda. Subhash, sang kakak, pragmatis, lebih memilih status quo dibandingkan dengan adiknya, Udayan, yang menginginkan perubahan atas sistem feodalisme di India. 

Sang kakak lebih memilih "lari" ke Amerika untuk menimba ilmu daripada bersusah payah dengan gejolak yang terjadi di India, tidak seperti adiknya yang memilih untuk bergabung dengan fraksi kiri dan melakukan perjuangannya sendiri tanpa dibantu kakak yang ia sayangi. 

Kamu sisi lain dariku, Subhash. Tanpa dirimu aku bukan siapa-siapa. Jangan pergi.

***

Politik bukan favorit saya, tapi platonic love adalah hal yang sangat saya sukai. Hanya melihat judulnya saja sudah membuat saya memutuskan untuk membeli paket novel sastra dari bukukatta ini, yang agaknya sedikit kecewa karena ternyata bentuknya cerpen, bentukan bukunya tidak rapi, tidak disegel plastik dan ternyata bisa dibaca gratisan di The New Yorker :v

Allah tahu saya suka sekali dengan hubungan persaudaraan dalam sebuah cerita, mulai dari Itachi-Sasuke di Nauto sampai Dean-Sam Winchester di Supernatural. Cerpen ini memenuhi hal tersebut, asem dan asinnya bukan main lah hubungan Udayan dan Subhash ini. Satu orang bisa begitu erat memegang kesetiaannya, lainnya bisa membuang dengan begitu mudah hubungan erat yang telah dibangun. Mengingatkan saya pada Amir dan Hasan di Kite Runner, ada salah satu tokoh antagonist di Kite Runner yang menuduh Amir dan keluarganya lari dari Afganistan, seorang pengkhianat, yang tidak mau membela saudara-saudaranya di tanah kelahirannya. Sekaligus mengingatkan saya ke Usman bin Affan, yang menikahi dua putri Nabi Muhammad. Pikiran saya suka lari kemana-mana memang. 

Poin plusnya Jhumpa Lahiri menyangkutkan ceritanya dengan sejarah India yang sama sekali tidak pernah saya dengar. 

Naxalite, pergerakan yang diikuti oleh Udayan adalah salah gerakan sayap kiri di India yang terbentuk sekitar tahun 1967-an, dipengaruhi oleh ideologi komunis China yang menghapuskan sistem feodalisme di China. Pemberontakan yang dilakukan Naxalite masih terjadi sampai sekarang, mereka terkenal dengan penyerangan (pembunuhan) mereka pada warga sipil, pegawai pemerintah dan polisi. 

Begitu luas efek perang dingin, rasanya tahun-tahun itu begitu banyak pergolakan ideologi yang merenggut banyak nyawa manusia, hal itu juga terjadi di Indonesia kan? Gampang sekali rasanya manusia itu untuk diadu domba.

Tentang penulis:

source
Bro, ini penulis kok cantik banget yak (。’▽’。)♡

Jhumpa Lahiri lahir di London pada 11 Juli 1967. Penulis Amerika keturunan India ini memiliki nama asli Nilanjana Sudeshna. Keluarganya pindah ke Amerika serikat pada tahun 1969 ketika ia berusia dua tahun.

Karya debutnya, Interpreter of Maladies berhasil memenangkan penghargaan Pulitzer untuk fiksi pada tahun 2009.

1 comment:

  1. Ih! Jhumpa Lahiri tjakeeep, tanteeee~ *salah fokus

    ReplyDelete

sankyu ya (*≧▽≦)