Wednesday, 18 September 2013

[Review] Daud Beureueh: Pejuang Kemerdekaan Yang Berontak


Judul:  Daud Beureueh: Pejuang Kemerdekaan Yang Berontak 
Penulis: Tim Buku TEMPO
Bahasa: Indonesia
Genre: non-fiksi, historical
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman: 162p
Bintang: ✮ ✮ ✮ 

"Wallah, Billah, kepada daerah Aceh nanti akan diberikan hak menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syariat Islam" Sukarno, 1947.

Blurb:
Teungku Daud Beureueh, ulama dan tokoh masyarakat karismatik Aceh, mengangkat senjata melawan pemerintahan pusat pada 1953. Lalu perang datang silih berganti di Tanah Rencong hingga pergantian abad.

Sungguh ironis, beliau menyambut kemerdekaan Indonesia 1945 dengan sumpah setia, lalu beliau melakukan pemberontakan. Abu menganggap ia telah dikhianati oleh pemerintahan pusat. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Kisah tentang Daud Beureueh adalah salah satu cerita tentang "Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan", yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo pada 2003-2010. 

~*~*~*~

Saya bukan orang yang hobby mempelajari sejarah negara saya sendiri, tapi nampaknya hal itu berubah ketika saya harus mengikuti ujian dengan materi kebangsaan sebulan yang lalu. Saya membuka-buka lagi buku sejarah SD-SMP dan menyadari betapa cetek pengetahuan saya tentang negara sendiri. Sebagai orang ilmu alam yang lalu murtad ke ilmu akuntansi, sejarah Indonesia memang bukan makanan saya. Saya selalu bangga mengaku jika saya suka sejarah, tapi nyatanya sejarah yang saya nikmati adalah sejarah Islam dan negara-negara lain. Saya akan memperbaiki kecenderungan saya tersebut. 

Dan, kawan, betapa berubahnya feeling yang kamu dapat ketika kamu membaca sejarah negerimu sendiri ketika kamu sudah dewasa....

Iya, berubah. Saya skeptis dengan buku sejarah SD-SMP, kalian mengerti maksud saya, bagaimana isi buku-buku itu? Tapi toh, anak yang belum dewasa seperti itu tak layak juga jika diberi "brutal honesty" tentang apa yang sebenarnya terjadi? :)

Saat mempelajari sejarah Indonesia selama seminggu tersebut (sistem kebut seminggu, aw yeah), bukan hal-hal penting seperti nama orang atau tanggal yang saya tanamkan dalam kepala, melainkan drama yang terjadi. Sedih. Saya bukan orang yang suka politik, tapi saya cukup banyak membaca fiksi dengan politik di dalamnya. Cerita hidup pemberontakan pasca kemerdekaan Daud Beureueh mengingatkan saya dengan fanfik-fanfik Gundam Wing yang saya baca dari salah seorang author kawakan di fandom ini. Untuk ukuran orang yang lebih memilih menulis hal seperti itu (re: fanfik), author ini punya pikiran yang berbeda dari yang lain. Padahal dengan kemampuan seperti itu dia bisa mengeluarkan buku-buku bagus. Salah satu fanfiknya berjudul Chiasma yang mirip dengan kisah Daud Beureueh. Awalnya tokoh utama juga "rebel" (anggap saja pejuang) melawan orang yang menindas "koloni"-nya, ketika perang berakhir, dia tidak puas dengan nasib koloninya. Maka dia berontak lagi, gagal lalu tokoh utama ini berakhir di perasingan seumur hidupnya :(

Dauh Beureueh, orang keras kepala yang dibentuk oleh ideologinya. Berjuang sampe masa akhirnya, bahkan ketika semua orang yang menghormatinya memohon untuk berhenti berperang. Jujur, dibandingkan dengan Kartosuwirjo, saya lebih simpati dengan Daud Beureuh, karena orang ini begitu keras memegang apa yang dia yakini.

Sedih, sedih saya membaca kisah Daud Beureueh ini. Bahkan sebelum membaca buku ini saya bersyukur dia tidak ditembak mati seperti pemberontak yang lain. Jasin, sebagai tentara dengan hebatnya membuat taktik halus untuk membuat Beureueh untuk turun dan berhenti gerilya. Cara yang sepertinya dilupakan orang-orang sekarang.

Kadang saya merasa apa yang diperjuangakan beliau adalah nasionalisme fanatik, dengan mudah beliau mengkafirkan dan menghalalkan darah musuhnya. Perang Cumbok yang dibahas di sini juga mengerikan sekali. Tapi jika dilihat dari timeline sejarah Aceh sendiri.....apakah pendapat Hatta tentang negara federal lebih baik untuk bangsa yang punya banyak perbedaan seperti Indonesia ini?

Yang saya sayangkan dari buku ini adalah, ketidak-linearannya. Saya mengharapkan banyak info tentang hidup Daud Beureueh, tapi isi yang berhubungan dengan beliau hanya sampai setengah isi buku saja, setengahnya lagi lebih tentang Aceh, bahkan ada banyak bagian tentang Snouck Hurgonje. Yah, tidak merugikan juga karena informasi yang diberikan termasuk baru bagi saya yang sama sekali tidak tahu menahu tentang GAM.

2 comments:

  1. wah.. ngeliat reviewnya jadi kepengin baca. Tgk. Daud Beureueh memang sosok ulama yang tak terlupakan bagi rakyat aceh (yang membuat sebagian rakyat Aceh tidak percaya kpd pemerintah pusat).

    ReplyDelete
    Replies
    1. kira2 apa ya yang bisa membuat rakyat aceh percaya ke pemerintahan pusat?

      Delete

sankyu ya (*≧▽≦)