Tuesday, 31 December 2013

[Review] American Gods (Dewa-Dewa Amerika)


Judul: American Gods
Penulis: Neil Gaiman
Bahasa: Indonesia
Genre: fantasy, adult
Halaman: 784p
Rating: M
Bintang: ✮ ✮ ✮ ✮ ✮

"Bagaimanapun, agama itu dari definisinya adalah metafora: Tuhan adalah impian, harapan, wanita, seorang yang ironis, ayah, kota, rumah dengan banyak kamar, pembuat jam yang meninggalkan kronometernya yang paling berharga di padang pasir, seseorang yang mengasihimu--bahkan mungkin, meskipun semua bukti menunjukkan sebaliknya, makhluk dari kahyangan yang satu-satunya minatnya adalah memastikan bahwa tim sepak bolamu, pasukanmu, bisnismu, atau pernikahanmu langgeng, sukses, dan menang atas segala perlawanan."

Ketika saya membaca American Gods saya tiba-tiba ingat dengan anime lawas yang saya tonton, jaman saya tv-pun gak punya (eh udah punya belum ya?), pokoknya jaman tidak enak dulu itu dimana hidup saya dipenuhi drama mandarin dan film India daripada anime semacam Sailormoon dan temannya. Saya ingat sekali, tokoh utama punya senjata utama "Tinju Bersinar" tapi saya tidak ingat itu anime apa. Sang tokoh utama berkata, seakan pada saya tentang kekuatan jimat, "jika kamu percaya dengan jimat ini punya kekuatan, makan jimat ini akan punya kekuatan."


Saat itu saya hanya bisa berwah takjub khas anak kecil, kesan yang ditimbulkan cowok tersebut membuat saya percaya pada kekuatan keyakinan. Jika kamu yakin bisa, maka kamu pasti bisa melakukannya.

Seperti ini lah premis utama American Gods yang menurut saya sederhana: kamu memberi kekuatan pada sesuatu yang kamu percaya dan puja.

Apakah ada yang pernah menonton atau membaca Natsume Yuujinchou? NY adalah anime tentang folklore Jepang. Ketika saya menonton Natsume Yuujinchou season 1, hampir setiap episode saya menangis karena, selalu saja ada dewa yang menghilang karena tidak ada yang mempercayai mereka lagi. Saya merasa ada banyak kemiripan Natsume Yuujinchou dan American Gods, hanya beda setting. Miris sekali dewa-dewanya. Powerless tanpa manusia.

Badai akan datang

Amerika adalah dunia baru, tidak dianggap setua Asia dimana peradaban dan agama-agama awal diceritakan muncul untuk pertama kali. Peradaban Mesopotamia, Mesir, apalagi yang ada dalam buku sejarah formal Indonesia? Atas tuntutan tanah air yang tidak nyaman untuk ditempati atau untuk mempertahankan kehidupan, orang-orang dari dunia lama pergi menuju dunia baru yang dihuni oleh orang-orang berkulit merah. Pendatang ini selain membawa harapan untuk hidup juga membawa dewa-dewa mereka ke Amerika.

Lalu keturunan-keturunan orang yang membawa dewa-dewa dari tanah tua ke Amerika ini melupakan mereka. Ilmu pengetahuan dan teknologi menguasai manusia. Manusia lebih percaya pada teknologi daripada dewa-dewa sehingga dalam novel ini, teknologi adalah dewa baru manusia. Teknologi berupa kendaraan bermesin telah merenggut banyak jiwa manusia, statistik menunjukkan bahwa kecelakaan berkendara jauh melebihi korban perang. Jika teknologi adalah dewa, darah yang tumpah di jalan adalah pengorbanan manusia. Teknologi seakan tak ubahnya dewa yang meminta persembahan.

"Ada dewa-dewa mobil di sana: kontingen yang kuat dan berwajah serius, dengan darah di sarung tangan hitam mereka dan gigi krom mereka: penerima korban manusia dalam skala yang belum pernah terdengar sejak zaman Aztec."

Di sinilah bedanya American Gods dan Natsume Yuujinchou, Neil Gaiman pintar dalam membuat plot sehingga buku ini tidak hanya sekedar dewa-dewa sekarat yang kehilangan kekuatannya saja karena tidak ada lagi yang menyembah dan mempercayai keberadaan mereka. Dewa-dewa lama akan berperang dengan dewa-dewa baru.

Lalu di sinilah Shadow, seorang pendiam, mantan narapidana yang hanya ingin kembali pada istrinya. Sayang, hanya beberapa saat setelab bebas, ia mendapat berita bahwa Laura, istrinya, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Tak ada tujuan, Wednesday, seorang dewa lama menyeretnya berkeliling Amerika untuk menemui dewa-dewa lama yang lain untuk menghadapi perang antara dewa-dewa lama dengan dewa-dewa baru. Inilah kisah Shadow yang diseret-seret oleh sesuatu yang tidak begitu dingingkannya.

Tease? Sejarah adalah divisi saya, tapi mitos tidak begitu menarik perhatian saya, tapi dari sejarah itulah lahir mitos. Buku ini menggelitik kecenderungan saya yang suka sejarah, plus....


dewa yang diadopsi *uhuk*

Buku tebal, dengan berbagai macam mitos yang jujur saja saya banyak yang tidak saya ketahui. Saya tidak bisa menahan diri untuk google setiap mitos yang saya temui, hal itu menyebabkan saya lama sekali bisa menyelesaikan buku bantal ini. Plot dan twist American Gods bagi saya hanyalah bumbu karena yang saya sukai sebenarnya adalah drama-drama tokoh dalam mitos dunia lama yang dimasukkan oleh Neil Gaiman. Mulai dari Ratu Sheba yang jadi pelacur agar manusia tetap memujanya, sales cowok dari Oman yang berhubungan sexual dengan Ifrit sampai dengan cerita awal mula Indian datang ke Amerika, dosen budaya saya dulu pernah bercerita tentang kemiripan fisik Indian dan orang-orang Asia dan Melanasia sehingga saya berpikir Neil Gaiman tidak ngawur. Selain gaya penulisan yang bagus, saya selalu suka dengan penulis yang melakukan riset sebelum menulis :)

3 bintang untuk ide Neil Gaiman, 4 bintang untuk cara penulisannya dan 5 bintang untuk mitos dan drama karakter-karakter sampingannya tentang apa itu keyakinan :)

1 comment:

  1. aku ngasi ini satu bintang doang mbak, did not finish :o

    ReplyDelete

sankyu ya (*≧▽≦)