Thursday, 28 November 2013

[Review] Suicide Notes

Judul: Suicide Notes
Penulis: Michael Thomas Ford
Bahasa: Inggris
Genre: Young Adult, Fiction, Humor
Rating: M
Bintang: ✮ ✮ ✮ ✮
Bisa diperoleh di: Bookdepository

Seven little crazy kids chopping up sticks
One burnt her daddy up and there were six
Six little crazy kids playing with a hive
One tattoed himself to death and there were five
Five little crazy on cellar door
One went all scizo and then there were four
Four little crazy kids going out to sea
One wouldn't say a word, and then there were three
Three little crazy kids walking to the zoo
One jerked himself too much and then there were two
Two little crazy kids sitting in the sun
One took a bunch of pills and then there was one
One little crazy kid left all alone
He went and slit his wrist and then there were none


Saya tinggal di pinggiran utara Malang dan siapa yang tidak tahu Rumah Sakit Jiwa Porong yang katanya terbesar di Asia Tenggara? Memang di semua rumah sakit yang saya pernah kunjungi (yang hitungannya sangat sedikit mengingat saya jarang kemana-mana), RSJ Porong itu bagus, ditambah letaknya yang berada di kawasan perbukitan, sejuk sekali dan nyaman.

Ada satu teman yang orang tuanya dinas di sana sebagai perawat, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi rumahnya bersama teman-teman yang lain untuk menonton The Kite Runner. Awalnya saya sangat takut harus melewati bagian dalam rumah sakit jiwa, tapi karena guide kami sudah terbiasa dengan orang gila, kami tenang. 

Gusti Ayu, teman saya itu menunjukkan satu bangsal untuk anak-anak dan remaja, dan saya langsung nyeletuk, "loh, ada anak-anak gila di sini?"

Ada. 

Saya bertanya karena apa mereka gila? Karena saya tahunya caleg yang gagal kepilih aja yang bisa gila karena uangnya ludes dan masuk RSJ Porong. Maafkan saya, karena saat itu saya masih kecil.

Contoh yang Ayu berikan adalah remaja yang stress gara-gara Ujian Nasional. Pas SMA saya pernah capek sekali dengan namanya sekolah dan "to hell" banget dengan pelajaran IPA, gak ambil pusing, itu kesalahan terbesar saya yang saya sesali sampai sekarang. Namun jika dipikir lagi, saya itu udah depresi, tapi untunglah tidak separah depresi yang saya alami saat SMP, bukan karena sekolah atau apa sih....

Kebanyakan orang gak sanggup membayar perawatan di sana, contohnya saja kemaren saya tiba-tiba ditendang oleh orang gila yang merupakan tetangga saya. Kadang dia membawa pisau, mengingat itu, saya cuman bengong saja ketika tiba-tiba ditendang. Untung dia gak bawa pisau. Mengingat keluarga saya temperamennya tinggi, bapak saya langsung ngelabrak orang bermasalah ini. Mungkin sebaiknya dia dirawat sebentar di RSJ ya, tapi uangnya darimana juga :(

Nah, setting Suicide Note ini di bangsal sakit mental sebuah rumah sakit khusus anak-anak. Jeff, sang tokoh utama terbangun di bangsal tersebut dengan kondisi menyangkal ada yang salah dengan dirinya. Lupakan fakta bahwa ada perban di pergelangan tangannya, dia hanya mau pulang dan gak mau dibilang gila. Itu bangsal sakit jiwa, demi Tuhan, dan Jeff menyangkal jika ada yang salah dengan kondisi jiwanya.

Setengah isi buku isinya penyangkalan Jeff jika dia gila, dan seperti disebutkan jelas di judul buku ini, telah melakukan percobaan bunuh diri. Apa masalahnya, dia tak mau menyebutkan, penyangkalan yang dia buat benar-benar membuat saya terhibur.

Loh? Ini dari bukunya kelihatan muram dan bakal penuh air mata. Percayalah jangan percaya dengan judulnya karena ini dark humor. Buku ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama, Jeff, yang sarkastik, lucu dan pintar. Saya selalu benci novel yang diceritakan dari sudut pandang orang pertama karena sulit bagi saya untuk menyukai karakter yang tidak bisa bercerita secara sarkastik (dan pintar). Tidak banyak novel dengan 1st POV yang masuk dalam list empat bintang ke atas. Biasanya kalo membuka buku yang dinanti-nanti, lalu lihat bahwa buku itu ditulis dari sudut pandang pertama, saya akan kecewa sekali. Sudut pandang orang ketiga menurut saya lebih aman.

Kembali ke cerita Jeff di bangsal sakit jiwa, di sana dia bertemu dengan penghuni bangsal lainnya, Sadie, Bone, Alice, Jessica, Martha, Rankin dan Squirrel. Mereka punya masalah masing-masing yang kadang-kadang berhubungan dengan jiwa dan ada juga yang salah dengan keluarga mereka. Sama-sama masih anak-anak, saya sangat bersimpati karena hidup mereka sudah sesusah itu. Namun, Jeff, boy in denial ini hanya menganggap mereka orang gila....

....yang nantinya, karena dia harus berada di sana selama 45 hari, mulai mempertanyakan mana yang normal dan mana yang gila?

Oh, jika dari tadi saya bilang Jeff selalu menyangkal bahwa dia punya masalah, maka dia juga menyangkal bahwa dirinya gay.
Guys are so afraid of people thinking they are queer, but the jocks are practically feeling each other up out there.
Sebelum membaca novel ini, saya pernah membaca fanfic yang bersetting di rumah sakit jiwa, Fly on Broken Wing, bagus sekali menurut saya. Jika di novel terpusat pada Jeff maka di fanfic tersebut ada 6 karakter yang diberi sudut pandang masing-masing, kenapa mereka di sana dan latar belakang mereka. Itu menurut saya yang kurang dari novel ini yang ditutupi oleh dark humor yang merupakan poin plus plus :))

Bukan masalah dia gay yang membuat dia menyayat tangannya, tapi....*eh spoiler*

Saya pernah mendengar curhatan orang yang ingin mati saja, ada karena masalah kesehatan, keluarga, skripsi, dan lain-lain. Pernah lihat berita anak kecil mencoba bunuh diri karena cintanya ditolak? Kadang alasan orang untuk mati itu aneh. Tidak jarang orang lain menganggap mereka bodoh.

Di akhir buku ada pesan dari penulis: jika kamu merasa depresi tidak aneh jika kamu ingin mengakhiri hidup. Itu bukan suatu dosa, banyak orang yang seperti, bukan kamu saja. Kamu tidak perlu takut. Jika kamu merasa sudah tak kuat lagi menghadapi hidup, cari pertolongan secepatnya, keluarga, teman, profesional yang mendengar permasalahanmu.

Ada penulis fav saya yang karakternya muslim dan dia berusaha mengerti muslim sementara dia liberal atheist, sukses dengan dia menunjukkan pada saya bahwa sulit bagi muslim untuk percaya psikolog/psikiater. Dengan ceritanya dia menunjukkan ketika seorang psikolog menganjurkan seorang non-practical muslim untuk menemui imamnya. Saya hanya bisa mengangguk saja, karena ketika saya depresi, saya larinya juga ke agama saya. Mungkin itu ya kenapa psikolog di sini gak begitu laku, stampel orang gila ke dokter orang gila itu jelek ya (?) 

Jadi, 4,5 bintang untukmu Jeff! 

3 comments:

  1. Hihi. Sukak banget sama gaya narasinya Jeff. Yang paling kusuka itu waktu dia bikin narasi sendiri buat film-film yang ditontonnya sama Sadie. :')

    ReplyDelete
  2. ayu yang disebut bukan ayu yang diatas kah? #dikeplak
    beberapa kali baca memoar orang yang pernah gila malah bingung sendiri, maksudanya apa nih tulisan, hehehe

    ReplyDelete
  3. @ayu: Sadie dong yang pinter, kan dia yang ngusulin kegiatan itu duluan xD

    @mas tezar: bukan, Gusti Ayu, turunan Bali :v udah dua kali sih mas baca buku ttg mental illness, simpati iya jadinya :))

    ReplyDelete

sankyu ya (*≧▽≦)