Monday, 2 September 2013

Review Film: Let Me In (2010)


Director: Matt Reeves
Screenplay: Matt Reeves, John Ajvide Lindqvist
Star: Kodi Smit-McPhee (Owen), Chloe Grace Moretz (Abby)
Ringkasan:
A bullied young boy befriends a young female vampire who lives in secrecy with her guardian.
Rating: R

Opini 
Kemungkinan spoiler bukunya

Dan inilah adaptasi buku Let the Right One In versi Amerika. Ya, novel tersebut beruntung sekali bisa mendapat dua kali adaptasi, satu versi Swedia dan satunya adalah versi Amerika yang digarap oleh Matt Reeves.

Apakah saya tahu siapa itu Matt Reeves? 

Of course no.

Saya bukan movie-goer. Sejak kuliah saya sering ke bioskop pun karena peer-pressure anak kampus di perbatasan Jakarta dan Tangerang (hoy, cewek kulihaan mana yang gak pernah ke bisokop?) dan pastinya saya masih milih-milih, film yang saya tonton, harus ada pemain yang saya sukai setidaknya. Misalnya saja, saya nonton Star Trek (2009) karena di tahun 2013 si Timun Inggris akan main menjadi villain di sana. Contoh lain, saya ngotot nonton The Hobbit (2012) karena ada Martin Freeman. Lainnya lagi saya nekat nonton The Woman in Black karena ada Daniel, tapi karena Gusti sayang saya, ternyata filmnya udah diturunin, akhirnya saya dan teman saya nonton Hunger Games, pertama kalinya saya menyentuh genre dystopia. Not bad. Cowok yang main di Zathura tambah kekar (gantinya Daniel, yang kekar juga), dan Jennifer Lawrence cantik.  

Ya, ya, secetek itulah saya untuk masalah per-film-an. Sejak menemukan Asri (perpustakaan), saya jadi lebih suka diam di kamar daripada diam di depan TV. Duduk manis di bioskop itu keharusan. Gak gratis cuy.

Bahkan saking cupunya, saya baru menyadari jika Chloe Grace Moretz itu pemain di Kick Ass (nonton sedikit) dan 500 Days of Summer....semingu setelah saya menonton film ini. Saya susah mengingat wajah pemain barat, muka mereka sama semua *plak*

Terus, film ini ceritanya bagaimana? Curhat melulu ah daritadi.

Jika novelnya memberi saya perasaan depresi, fuwa-fuwa, berbunga-bunga dan akhirnya book-hangover, maka tidak dengan adaptasi ini. Bukan berarti filmnya jelek, bagus malah, tapi banyak bagian di bukunya yang diubah. Mungkin menghindari kesamaan dengan film adaptasi versi Swedia.

Contohnya saja, jika plot di buku dibuat linier, tidak dengan filmnya. Saya cuman bisa "Loh?" saat melihat scene awal. Perasaan saya baca bukunya baru minggu lalu, kok saya gak ingat adegan ini? Ini tipe plot terbalik.

Settingnya juga bukan lagi kota pinggiran di Swedia, tapi kota pinggiran di Amerika Serikat. Setidaknya settingnya dibuat ketika musim dingin, karena kupikir di Swedia itu turun salju 365 hari dan jika setting bersalju orisinilnya diganti, bakal kacau semua ceritanya.

Lalu ada Abby dan Owen. Ok wait? Siapa? Ternyata nama karakternya juga dirubah. Eli menjadi Abby dan Oskar menjadi Owen. Ada wacana untuk merubah umur mereka, untung saja tidak, atau efek romance yang dilakukan bocah SD bakal hilang. 

Bagian menjurus (bukan menjurus lagi sih) pedopilia juga dijelaskan, tapi lebih dijelaskan backgroundnya kenapa bisa seperti itu, dan ini poin plusnya. Buku Let the Right One In, walau ukurannya besar seperti itu, menyisakan beberapa hal bagi pembaca untuk diintepretasikan sendiri. 

Memang filmnya tidak se-wah bukunya, tapi acting si Chloe dan Kodi bagus sekali, mereka bisa memainkan peran anak kecil yang bermasalah, lalu saling jatuh cinta dengan bagus, yang tidak membuat saya "ugh SD pacaran tahu apa mereka". Cewek suka puzzle yang kelihatan penyakitan dan cowok chubby yang dibully temannya. It's charming romance, really, yang membuatmu hangat di dada, bukan yang membuatmu panas di bagian lain. 

Seperti yang saya sebutkan di review bukunya, hal yang paling menyenangkan dari cerita ini memang romance-nya. Imut. Ada orang ngomong klo sebenernya ini romance yang berbumbu horror dan thriller. Bisa, bisa. Karena jujur saya gak teriak-teriak seperti lihat kecoa terbang ketika menonton film ini, padahal ini horror loh. Teriakan saya itu paling heboh klo nonton film horror. Bagian gore-nya mungkin saya skip karena...yah, saya lebih bisa baca laporan diskriptif dan terperinci seorang ahli forensik daripada melihat kucing yang kakinya patah.

Endingnya sendiri setidaknya sesuai dengan novelnya, walau settingnya juga dirubah sedikit. Ini film horror yang manis, empat bintang untukmu :3  

1 comment:

  1. review filmnya bagus :) yang mau baca review film terbaru lainnya, bisa langsung ke http://www.gostrim.com selamat membaca :)

    ReplyDelete

sankyu ya (*≧▽≦)