Monday, 22 July 2013

Inheritance by Christoper Paolini


Judul: Inheritance  
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 920
Rating: R 
Cover: Paperback

Berawal dari Eragon 
Dan berakhir dengan Warisan

Setelah agak kecewa dengan Brisingr yang monoton dan penuh diskripsi yang memang khas Paolini serta terlalu terfokus ke Roran, akhirnya aku dibuat sedikit semangat dengan Inheritance yang kata teman-teman jauh lebih menarik dari Brisingr. Faktanya memang begitu, aku butuh hanya beberapa hari untuk baca buku ini sementara aku butuh 3 tahun lebih untuk baca Brisingr (iya, dari akhir SMA dan baru aku baca benar-benar ketika udah lulus kuliah).

Aku nyelesaiin Brisingr akhir tahun 2012, kecewa karena Murtagh tidak dapat porsi cukup dan nangis karena ada yang mati di tangan Murtagh. Aku pikir, "Kenapa sih Paolini benci sekali Murtagh."

Tapi cukuplah membicarakan Brisingr, karena kakak kos yang sekarang bertugas di Irian Jaya meyakinkanku klo Inheritance bakal punya banyak porsi untuk Murtagh, bahkan ada kisah cinta dia dan Nasuada (ceritanya dia sms eike spoiler, sial kan?)
Cukup satu saja hal yang membuat aku bisa suka suatu novel, yang utama adalah karakternya dan/atau plotnya. Jika karakternya menarik sekali aku akan baca walau plot-nya acakadut bulet bikin pusing atau plot-nya sampah sekalipun. Kuantitas novel ini mengerikan dan aku lebih suka karakternya daripada plotnya.

Aku suka siapa? 

Saphira dan Eragon tentunya, kisah cinta mereka luar biasa. Lalu Murtagh, karena aku suka kakak laki-laki yang peduli pada adiknya *malu* 

Inheritance Cycle ini epic book, juga panjang....panjang sekali dan banyak sub-plot yang sejujurnya gak perlu dibuat panjang-panjang (seperti bagian Roran yang seharusnya dipangkas saja)

Inheritance berawal dengan pertarungan Eragon di Belatona, muncul masalah dengan adanya Dauthdeart, senjata yang bisa membunuh naga. Aku bisa bayangin ini sebagai kunci untuk bunuh Shruikan (yay!). Dan Roran sang manusia perkasa, tanpa kekuatan magis apapun bisa menaklukkan Aroughs (yay lagi)

Tapi tidak semudah itu mencapai akhir cerita ini karena Murtagh harus menculik Nasuada dan di sanalah cinta bersemi~ kekhawatiranku jika Murtagh memang jahat tidak terbukti (misunderstood big brother itu memang ada dimana-mana). Di sini, pandanganku terhadap Nasuada berubah karena aku awalnya benci cewek ini, dan aku rela jika dia jadian dengan Murtagh dan punya anak banyak ;^;

Plot tentang Pulau Vroengard dan Eldundari ini yang paling bikin kaget dan secercah harapan untuk mengalahkan Galbatorix...tapi dia gak muncul-muncul dan aku sudah sebel sendiri dengan point of view yang selalu berganti di saat-saat klimaks.

Galbatorix muncul ketika aku udah baca lebih dari setengah buku, aku berpikir mau dibuat seperti apa plotnya jika Galbatorix hanya diberi porsi sedikit?

Dan inilah sisi jelek Inheritance, deus ex machina, dipaksa tamat. Pertarungan dengan Galbatorix terlalu pendek. Kemunculan "The Word" seakan terlalu dipaksakan dan muluk. Itu bukan kun fayakun kan? Bahkan pertarungan Roran yang sejujurnya gak perlu lebih menarik dan lebih panjang daripada pertarungan tokoh utama dengan Galbatorix. Aku cuman bisa bersimpati pada Roran yang berkata dunia ini tidak akan stabil jika ada orang yang bisa sihir dan mereka bisa melakukan apa yang mereka inginkan seenaknya sendiri. Kemampuan makhluk-makhluk selain manusia di Inheritance ini menurutku terlalu muluk.

Selain deux ex machina, aku kasihan dengan Eragon dan Murtagh, karena cinta mereka gak kesampaian. Yang berhasil menemukan cinta hanya Saphira dan Firnen coba :(

Apalagi yang mbuat saya sebel? Kualitas Inheritance yang diterbitkan Gramedia.  Banyak typo dan penerjemahan yang plin plan. Editor mana editor? Kok banyak typo? Dam kalaupun harus beda penerjemah, seharusnya penerjemah yang baru melihat terjemahan yang lama dong.

Tapi kenapa aku ngasih bintang 5? Karena Inheritance Cycle ini memang bagus, duh! Aku suka plot yang diseret-seret yang menunjukkan penulis memang mikir ketika menulis buku ini. Aku suka kejutan dan aku suka hubungan erat yang terjalin antara Penunggang dan naga mereka :))

Lagipula, ketika aku SMP, aku menganggap Eragon lebih bagus dari Harry Potter (masa lalu loh ya). Inheritance Cycle itu merupakan cerita penuh kenangan bagiku. Aku baca Eragon karena orang yang aku suka ketika SMP suka dengan buku ini. Berbeda dengan Harry Potter yang jujur aku baru suka 2 tahunan ini :))

So yeah, review tidak ada yang benar-benar objektif, bukan?

No comments:

Post a Comment

sankyu ya (*≧▽≦)